Skip to main content

Perang Salib dan Faktor-faktor Penyebab Terjadinya

Pembahasan
A.    Pengertian Perang Salib
     Perang Salib berasal dari Bahasa Arab yaitu “Harakat” yang berarti gerakan atau barisan, dan “Sholibiyyah” yang berarti kayu palang, tanda silang (dua batang kayu yang bersilang). Jadi perang salib adalah suatu gerakan (dalam bentuk barisan) dengan memakai tanda salib untuk menghancurkan umat Islam. Sedangkan dalam Ensiklopedia Islam Perang Salib ialah gerakan kaum Kristen di Eropa yang memerangi umat Islam di Palestina secara berulang-ulang, mulai dari  abad XI sampai abad XIII M. Untuk membebaskan Bait al-Maqdis dari kekuasaan Islam dan bermaksud menyebarkan agama dengan mendirikan gereja dan kerajaan Latin di Timur. Dikatakan Perang Salib, karena setiap orang Eropa yang ikut bertempur mengenakan tanda salib di dada kanan dan perisai mereka sebagai bukti kesucian dari cita-cita mereka.[1]

B.     Latar Belakang terjadinya Perang Salib
Perang Salib adalah perang terbesar sepanjang sejarah, perang ini berlangsung hingga kurang lebih dua abad lamanya, yaitusejak tahun 1099 sampai 1291. Perang Salib ini terjadi sebagai tragedi berdarah yang memperebutkan satu kota suci, Ibrahimiyah (Islam, Kristen dan Yahudi), Yerussalem yakni Baitul Maqdis.
     Memang sudah sejak zaman Rasulullah SAW, pihak Kristen sangat tidak setuju dengan dakwah Islam. Kedengkian dan kecemburuan terhadap kaum muslimin telah mengkristal didalam hati para pendengki, yaitu para tentara perang salib yang dikenal dengan sebutan Paus Erian II.[2]
     Ada pula konsepsi yang mengimplikasikan munculnya pandangan bahwa memerangi orang kafir adalah sama halnya dengan melaksanakan ziarah ke tempat-tempat suci.[3]
     Meski demikian, sebab utama terjadinya Perang Salib adalah permintaan kaisar Alexius Comnesus I kepada Paus Urbanus II untuk membantunya, karena kekuasaannya di Asia telah diserang oleh bani Saljuk di sepanjang pesisir Marmora. Paus Urbanus memandang permohonan ini sebagai kesempatan untuk menyatukan kembali gereja Yunani dan gereja Roma, yang sejak 1009 hingga 1054.
     Pada 26 November 1095 Paus Urbanus II menyampaikan pidatonya di Clermony, bagian tenggara Prancis. Adapun sebagian kecil isi dari pidato Paus Urbanus dihadapan para masyarakat serta tentara tentara Kristen adalah:
     “...Kabar berita telah tiba dari Yerussalem dan Konstantinopel, bahwa sebuah bangsa asing yang terkutuk yang menjadi musuh Tuhan, yang tidak lurus hatinya, danyang jiwanya tidak setia pada Tuhan, telah menyerbu tanah orang orang Kristen dan membumihanguskan mereka dengan pedang dan api secara paksa, siapa lagi yang akan merebutnya kembali selain kalian yang diberi tuhan kelebihan dari bangsa lain, Yerussalem adalah kota terbaik, yang seolah-olah menjadi surga kedua. Bergegaslah, dan kalian akan memperoleh penebusan dosa...”
     Hal inilah yang sehingga membuat semangat orang orang kristen khususnya para tentaranya semakin mengebu gebu. Pada saat itulah genderang perang Salib-disebut begitu karena salib dijadikan lencana-pertama ditabuh.[4]
     Faktor lain adalah keinginan mengembara dan bakat kemiliteran suku Tetonia. Kondisi masyarakat saat itu hingga akhirnya tercetus ide Perang Salib yang mereka sebut Holy War (Perang suci). Kondisi yang terjadi saat itu diantaranya adalah:
a.       Terjadinya fanatisme dan semangat keagamaan dikalangan masyarakat Eropa.
b.      Masyarakat dirundung permusuhan dan peperangan memperebutkan pengaruh diantara para tokoh dan pemimpin kerajaan, sehingga memperburuk keadaan sosial-ekonomi Eropa Barat.

     Namun selain kondisi diatas ada beberapa motif yang juga melatarbelakangi terjadinya perang Salib, yaitu:
1.      Motif Agama
   Direbutnya Baitul Maqdis (471 H/ 1070 M) oleh Dinasti Seljuk dari kekuasaan Fathimiyah yang berkedudukan di Mesir menyebabkan kaum Kristen merasa tidak bebas dalam menunaikan ibadah di tempat sucinya. Karena Dinasti Seljuk menerapkan peraturan yang sangat ketat kepada para umat Kristiani ketika hendak beribadah di Tanah Suci (Baitul Maqdis). Hingga mereka yang baru pulang dari beribadah ke Baitul Maqdis selalu mengeluh akan sikap buruk Dinasti Seljuk yang semena-mena. 
2.      Motif Politik
      Ada beberapa tanda bahwa adanya motif politik, yaitu bahwa dikalangan para raja dan pemimpin invasi militer  terjadi perselisihan diantara mereka sendiri, yaitu perebutan kekuasaan pada wilayah yang akan mereka taklukan. Serta, perang belum terjadi, tetapi mereka sudah memperbicangkan masalah pembagian harta rampasan perang.
3.      Motif Sosial
           Para pedagang besar yang berada diwilayah pantai timur sangat berambisi besar untuk menguasai perdagangan terutama diwilayah timur dan selatan laut tengah. Hal ini dilatar belakangi oleh adanya kesenjangan sosial yang terjadi di kalangan mereka. Serta, hal ini pun dimanfaatkan oleh Paus Urbanus untuk menarik simpati mereka agar ikut turut serta dalam perang Salib, dan mereka pun mau dikarenakan Paus menjanjikan penghapusan atas segala apa yang menjadi beban mereka terhadap para pejabat kerajaan.
4.      Motif Ekonomi
      Perang Salib merupakan perang suci bagi umat Kristiani, akan tetapi Perang Salib sebagai perang suci hanyalah sebagai topeng pemimpin gereja Roma, karena sebenarnya faktor dan tujuan Perang Salib adalah karena Politik dan Ekonomi. Sehingga beberapa relawan Perang Salib juga tidak hanya perang atas nama Tuhan, akan tetapi karena kepentingan masing-masing.[5]
        Saat itu wilayah kondisi perekonomian wilayah eropa sedang dalam keterpurukan, sehingga saat ada seruan untuk perang salib, maka orang-orang yang dalam kelaparan ini berharap bahwa perang menjadi jalan keluar mereka dari keterpuruka
         Di samping itu stratifikasi sosial masyarakat Eropa ketika itu  terdiri dari tiga kelompok yaitu: Kaum gereja, bangsawan, serta rakyat jelata. Mayoritas masyarakat di Eropa adalah rakyat jelata, kehidupan mereka sangat tertindas, terhina, dan harus tunduk kepada para tuan tanah yang sering bertindak semena-mena serta dibebani dengan pajak dan kewajiban yang lainnya. Oleh karena itu pihak gereja memobilisasi mereka untuk turut mengambil bagian dalam Perang Salib dengan janji diberikan kebebasan dan kesejahteraan yang lebih baik,m apabila dapat memerangkan peperangan.
         Selain itu, semenjak abad ke X, kaum muslimin telah menguasai jalur perdagangan di laut tengah, dan para pedagang Eropa yang mayoritas Kristen merasa terganggu atas kehadiran pasukan muslimin, sehingga mereka mempunyai rencana untuk mendesak kekuatan kaum muslimin dari laut itu.[6]

5.      Impian sang Paus
       Pada abad pertengahan Eropa, muncul pemahaman bahwa kedudukan kaisar lebih tinggi dari kedudukan gereja Katolik dan Paus harus ditunjuk oleh Kaisar. Namun pihak gereja Katolik malah sebaliknya, maka terjadilah perseteruan diantara keduanya. Sebenarnya, telah ada keinginan gereja Katolik yang berada di Roma untuk menyatukan antara ritual dan doktrin dengan pihak gereja Ortodoks, akan tetapi keinginan tersebut ditolak.
                        Setelah mendapat permohonan bantuan dari sang kaisar, Paus mengadakan sebuah pertemuan antara pemimpin, pendeta, dan komunitas gereja pada tanggal 27 November 1095, dan disitulah Paus menyampaikan pidatonya, sehingga tercetuslah ide untuk Perang Salib.



                [1] Carole Hillenbrand, PERANG SALIB SUDUT PANDANG ISLAM (Jakarta: PT Serambi Ilmu                                      Semesta 2006) , hal 20.
                [2] Abrari Syauqi, dkk, Sejarah Peradaban Islam (Yogyakarta: Aswaja Pressindo, 2016),hal 8
                [3] W. Montgomery Watt, Islam dan Peradaban Dunia (Jakarta: PT Gramedia Pustaka                                             Utama, 2004), hal 73.
                [4] Philip K. Hitti, History of the Arabs (Jakarta: PT Serambi Ilmu Semesta, 2002), hal 811-                                       812.
             [5] Syamsul Bakri, Peta Sejaran Peradaban Islam, (Yogyakarta: Fajar Media Press, 2011), 109                [6] Abu Su’ud, Islamologi (Jakarta: Rineka Cipta, 2003), hal 101.

Comments